Sabtu, 03 Oktober 2015

Penjajahan Bangsa Belanda di Nusantara



            Cornelis de Houtman ingin menguasai perdagangan yang ada di Banten. Dengan melihat pelabuhan Banten yang begitu strategis dan adanya hasil tanaman rempah-rempah di wilayah itu Cornelis de Houtman berambisi untuk memonopoli perdagangan di Banten. Dengan kesombongan dan kadang-kadang berlaku kasar, orang-orang Belanda memaksakan kehendaknya. Hal ini tidak dapat di terima oleh rakyat dan penguasa Banten. Oleh karena itu, rakyat mulai membenci bahkan kemudian mengusir orang-orang Belanda itu. Cornelis de Houtman dan armadanya segera meninggalkan Banten dan akhirnya kembali ke Belanda. (kementrian Pendidikan dan kebudayaan RI,2014,17)
            Tahun 1816 Nusantara kembali dikuasai oleh Belanda dan Pangeran willem membentuk Komisaris Jendral yang terdiri dari 3 orang untuk mengatur pemerintahan di tanah jajahan. Sebagai rambu-rambu-rambu pelaksanaan pemerintahan di negeri jajahan (Regerings Reglement) pada tahun 1815. Salah satu pasal dari undang-undang tersebut menegaskan bahwa pelaksanaaan pertanian dilakukan secara bebas. Hal ini menunjukkan bahwa ada relevansi dengan keinginan kaum liberal sebagaimana diusulkan oleh Dirk van Hogendorp. Berbekal ketentuan dalam undang-undang tersebut ketiga anggota Komisaris Jenderal itu berangkat ke Hindia Belanda. Ketiganya sepakat untuk mengadopsi beberapa kebijakan uang pernah diterapkan oleh Raffles. Mereka sampai di Batavia pada @& April 1816. Ketika melihat kenyataan di lapangan, ketiga Komisaris Jenderal itu bimbang untuk menerapkan prinsip-prinsip liberalisme dalam mengelola tanah jajahan di Nusantara. Hindia dalam keadaan terus merosot dan pemerintahan mengalami kerugian. Kas negara di Belanda dalam keadaan menipis. Mereka sadar bahwa tugas mereka harus dilaksanakan secepatnya untuk dapat mengatasi persoalan ekonomi baik di Tanah Jajahan maupun di Negeri Induk. (kementrian Pendidikan dan kebudayaan RI,2014,46-47)
            Komisaris Jendral menerapkan Kebijakan bahwa eksploitasi ditangani oleh negeri induk. Dengan mempertimbangkan amanat UU Pemerintahan dan melihat keyataan di lapangan serta memperthatikan kaum Liberal dan kaum Konservatif, Komisaris Jenderal sepakat untuk menerapkan kebijakan jalan tengah. Maksudnya, eksploitasi kekayaan di tanah jajahan langsung ditangani pemerintah Hindia Belanda agar segera mendatangkan keuntungan bagi negeri induk, di samping mengusahakan kebebasan penduduk dan pihak swasta untuk berusaha di Tanah Jajahan.  (kementrian Pendidikan dan kebudayaan RI,2014, 47)
            Johannes Van den Bosch mengusulkan untuk tanam paksa agar ekonomi Belanda membaik. Berbagai pendapat mulai dilontarkan oleh para para pemimpin dan tokoh masyarakat. Salah satunya pada tahun 1829 seorang tokoh bernama Johannes Van den Bosch mengajukan kepada raja Belanda usulan yang berkaitan dengan cara melaksanakan politik kolonial Belanda di Hindia. Van den Bosch berpendapat untuk memperbaiki ekonomi, di tanah jajahan harus dilakukan penanaman tanaman yang dapat laku dijual di pasar dunia. Sesuai dengan keadaan di negeri jajahan, maka penanaman dilakukan dengan paksa. Mereka menggunakan konsep daerah jajahan sebagai tempat mengambil keuntungan bagi negeri induk. Seperti dikatakan Baud, Jawa adalah “gabus tempat Nederland mengapung”. Jadi dengan kata lain Jawa dipandang sebagai sapi perahan. Konsep Bosch itulah yang kemudian dikenal dengan Cultuurstelsel (Tanam Paksa). Dengan cara ini diharapkan perekonomian Belanda dapat dengan cepat pulih dan semakin meningkat. Bahkan dalam salah satu tulisan Van den Bosch membuat suatu perkiraan bahwa dengan Tanam Paksa, hasil tanaman ekspor dapat ditingkatkan sebanyak kurang lebih f.15. sampai f.20 juta setiap tahun. Van den Bosch menyatakan bahwa cara paksaan seperti yang pernah dilakukan VOC adalah cara yang terbaik untuk memperoleh tanaman ekspor untuk pasaran Eropa. Dengan membawa dan memperdagangkan hasil tanaman sebanyak-banyaknya ke Eropa, maka akan mendatangkan keuntungan yang sangat besar. (kementrian Pendidikan dan kebudayaan RI,2014, 48)

Senin, 14 September 2015

Pejajahan Bangsa Belanda di Nusantara

Pejajahan Bangsa Belanda di Nusantara
            Bangsa Belanda ingin menemukan daerah peghasil remah-rempah seperti yang telah di lakukannegara lain.mendengar keberhasilan orang orang spanyol dan juga portugis dalam menemukan daerah baru,apalagi daerah penghasil rempah rempah,para pelaut dan pedagang Belanda tidak mau ketinggalan.Tahun 1594 Barents mencoba berlayar untuk mencari dunia Timur atau Tanah Hidia melalui daerah kutub utara.Karena keyakinannya bahwa bumi bulat maka sekalipun dari utara atau barat akan sampai pada pula di timur. (Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI, 2014, 16)
            Barents tidak berhasil melakukan penjelajahan. Ternyata Barents tidak begitu mengenal medan. Ia gagalmelanjutkan penjelajahannya karena kapalnya terjepit es mengingat air di kutub utara sedang membeku. Barents terhenti disebuah Pulau yang disebut Novaya Zemlya. Ia berusah kembali ke negerinya, tetapi ia meninggal di perjalanan. (Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI, 2014, 17)
            Ada dua pelaut Belanda yang pergi memulai pelayaran dan penjelajahan samudra untuk pergi ke tanah Hindia, dan mereka berhasil sampai di Nusantara. Pada tahun 1595 pelaut Belanda yang ain yakni Cornelis de Houtman dan Pieter de Kesyer memlai pelayaran. Kedua pelaut ini bersam aramadanya dengan kekuatan empat kapal dan 249 awak kapal beserta 64 pucuk meriam melakukan pelayaran dan penjelajahan samudra untuk mencari tanah Hindia  yang dikenal sebagai penghasil rempah-rempah. Cornelis de Houtman mengambil jalur laut yang sudah biasa dilalui orang-orang Portugis. Tahun 1596 Cornelis de Houtman beserta armadanya berhasil mencapai kepulauan Nusantara. Ia dan rombongannya mendarat di Banten. (Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI, 2014, 17)
            Ketika Cornelis de Houtman dan orang-orang Belanda lainnya di usir dari Banten karena, berambisi ingin memonopoli perdagangan di Banten bangsa  Belanda menyiapkan ekspedisi selanjutnya yang di pimpin Heemskerck. Waktu itu di kerajaan Banten bertepatan dengan masa pemerintahan Sultan Abdul Mufakir Mahmud Abdulkadir. Dengan melihat pelabuhan Banten yang begitu strategis dan adanya hasil tanaman rempah-rempah di wilayah itu Cornelis de Houtman berambisi untuk memonopoli perdagangan di Banten. Dengan kesombongan dan kadang-kadang berlaku kasar, orang-orang Belanda memaksakan kehendaknya. Hal ini tidak dapat diterima oleh rakyat dan penguasa Banten. Oleh karena itu, rakyat mulai membenci bahkan kemudian mengusir orang-orang Belanda itu. Cornelis de Houtman dan armadanya segera meninggalkan Banten dan akhirnya kembali ke Belanda. Ekspedisi penjelajahan berikutnya segera dipersiapkan untuk kembali menuju Kepulauan Nusantara. Rombongan kali ini dipimpin antara lain oleh van Heemskerck. Tahun 1598 van Heemskerck dengan armadanya sampai di Nusantara dan juga mendarat di Banten. (Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI, 2014, 17)
            Orang-orang Belanda bersahabat dengan orang Maluku. Belanda mulai melakukanaktivitas perdagangan. Kapal-kapal mereka mulai berlayar ke timur dan singgah di Tuban. Dari Tuban pelayaran dilanjutkan ke timur menuju Maluku. Di bawah pimpinan Jacob van Neck mereka sampai di Maluku pada tahun 1599. Kedatangan orang-orang Belanda ini juga diterima baik oleh rakyat  Maluku. Kebetulan waktu itu Maluku sedang konflik dengan orang-orang Portugis. Pelayaran dan perdagangan orang-orang Belanda di Maluku ini mendapatkan keuntungan yang berlipat. Dengan demikian semakin banyak kapal-kapal dagang yang berlayar menuju Maluku. (Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI, 2014, 17)